Mengenai Saya

Foto Saya
Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Indonesia
Muslim Sejati

Arsip

Kamis, 25 Februari 2010

PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF

LAPORAN ARTIKEL
PRAKTIKUM PIP & AGRONOMI
PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF



OLEH
ILMAL BANI HASYIM
09.04.3634

BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
POLITEKNIK LEMBAGA PENDIDIKAN PERKEBUNAN
YOGYAKARTA
2009


- STEK BATANG PADA TEBU

BAHAN UNTUK BIBIT PADA TANAMAN TEBU
Seperti tanaman yang lain, tebu juga ditentukan oleh tanaman bibit yang akan dipilih. Oleh sebab itu harus direncanakan jenis bibit apa yang sesuai dengan tanahnya.
Bibit harus berasal dari stek tebangan atau dari kebun bibit yang telah direncanakan sebelumnya, Bibit yang akan ditanam harus bermutu baik dan jenis unggul.
Adapun bahan untuk bibit dapat digunakan dari bibit pucuk, bibit batang muda dan bibit rayungan.


Bibit Pucuk
Bibit pucuk adalah bibit yang diambil dari pucuk batang yang sudah ditebang, tebu yang sudah berumur 12 bulan. Pucuk yang diambil adalah pucuk yang berwarna hijau, sedangkan yang tidak berwarna hijau dapat dipakai untuk makanan ternak (sapi). Panjang bibit kurang dari 30 cm (2-3 ruas) dengan 2-3 mata. Yang perlu diperhatikan dalam pemotongan stek jangan sekali dekat dengan tunas, apabila pucuk-pucuk mengalami kekeringan perlu direndam dalam air yang mengalir kurang lebih 24 jam. Untuk menghindari bibit terserang penyakit, sebaiknya bekas potongan diolesi dengan teratur desinfektan (lysol 5 -15%)


Bibit Batang Muda
Bibit batang muda ini harus dari yang masih muda berumur sekirat 5-7 bulan. Pada umur tersebut, mata-mata masih baik dan dapat tumbuh, dengan demikian seluruh batang tebu dapat diambil sekitar 3 stek. Jumlah tiap[ stek 2-3 tunas bibit batang muda.


Bibit Rayungan
Bibit rayungan diambil dari tanaman tebu khusus untuk pembibitan, berupa stek yang telah tumbuh tunasnya tetapi akar belum keluar. Setelah tanaman untuk bibit berumur 6 bulan dipangkas pucuknya, kira-kira 2 ruas lalu dibersihkan dari pelepahnya dan daun-daun yang masih membungkus. Kira-kira 2-3 bulan, 2-3 mata pada tunas teratas segera menjadi tunas .Setelah mencapai 25 – 40 cm sudah dapat dipotong.
Dari 1 ha tanaman tebu pembibitan, dengan satu ruas dan satu tunas dapat diperoleh bibit untuk sekitar 8 – 15 ha.


- STEK UMBI PADA KENTANG

Pengaruh Konsentrasi Paclobutrazol Dan Urea Pada Stek Kentang Terhadap Produksi Tuberlet Varietas Granola. Penelitian tentang Pengaruh Konsentrasi Paclobutrazol dan Urea pada Stek Kentang terhadap Produksi Tuberlet Varietas Granola dilakukan di Rumah Kaca Instalasi Penelitian Brastagi, mulai bulan Februari sampai bulan Mei 2000. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Paclobutrazol dan Urea yang tepat serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan dan produksi Tuberlet Varietas Granola. Metoda Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT), yang diulang tiga kali, faktor pertama sebagai petak utama adalah konsentrasi Urea (N) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu : N1 = 0.50% Urea, N2 = 0.75% Urea, N3 = 1.00% Urea. Faktor kedua sebagai anak petak adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh Paclobutrazol (P) yang terdiri dari 2 tara, yaitu : P1 = 0 ppm Paclobutrazol, P2 = 50 ppm Paclobutrazol, P3 = 100 ppm Paclobutrazol. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, luas daun, jumlah klorofil daun, jumlah umbi per plot dan bobot umbi per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 0.50% Urea pada tanaman kentang asal stek kultur jaringan dapat meningkatkan luas daun, menurunkan jumlah umbi kelas A per plot, meningkatkan jumlah umbi kelas B1 dan B2 per plot serta cenderung meningkatkan bobot umbi per plot. Pemberian 50 ppm dan 100 ppm Paclobutrazol dapat menurunkan tinggi tanaman, meningkatkan jumlah klorofil, menurunkan jumlah umbi kelas A, B1 dan B2 per plot serta bobot umbi per plot dibandingkan dengan kontrol. Konsentrasi Urea dengan Paclobutrazol berinteraksi dalam mempengaruhi jumlah umbi per plot kelas A.


- STEK AKAR PADA SUKUN YANG BERBIJI

Kelur (Sukun yang berbiji) biasanya diperbanyak menggunakan biji. Biji-biji segar yang langsung ditanam memiliki viabilitas sebesar 90 - 95%, dan viabilitasnya akan turun atau hilang setelah beberapa minggu atau disimpan dalam lemari pendingin. Sedangkan Sukun biasa diperbanyak secara tradisional melalui tunas akar (yang telah memiliki akar adventif). Namun pekerjaan tersebut terlalu melelahkan dan memiliki resiko kematian tunas yang tinggi, jika tidak dipelihara dengan baik. Sesungguhnya tunas akar dapat dicangkok, yang akan meningkatkan kuantitas akar serta ketahanan hidup tuans tersebut. Metode perbanyakan yang lebih umum lagi adalah stek akar. Stek akar dapat dilakukan dengan menanam irisan melintang bagian akar yang memiliki diameter sebesar 2.5 cm atau lebih dan panjang 20-25 cm kedalam media tanam di areal persemaian yang teduh untuk menjaga kelembapan yang tinggi sampai keluar tunas dan akar adventifnya. Proses tersebut dapat berlangsung dalam beberapa bulan. Kemudian tiap-tiap tunas ditanam ke dalam pot dan dipelihara di bawah naungan yang sesuai. Pemberian naungan tetap dilakukan ketika semai ditanam di lapang hingga kondisi mantapnya tercapai.


- STEK DAUN PADA BEGONIA

Pilih daun Begonia yang telah cukup tua. Petik tanpa disertai tangkainya.Belah daun tersebut jadi 3 bagian. Pembelahan dilakukan dari pangkal daun utama. Pembelahan jangan samapi memotong tilang daun Utama. Lakukan di sela-sela tulang daun utama. Tancapkan potongan daun tersebut pada media kompos yang basah.Selanjutnya usahakan jangan sampai terkena air/tetesan air/air hujan. Setelah 1 bulan akna muncul rumpun tunas.Pisahkan rumpun tersebut jadi 5 bagian agar menjadi lima tanaman.


- KULTUR JARINGAN PADA PISANG ABACA

Meneliti Kultur Jaringan Pisang Abaca

Para petani yang tergabung dalan KBN (Koperasi Bina Nusantara) datang ke Menristek untuk meminta kajian atau agar BPPT mengkaji apakah ada teknologi yang bisa meningkatkan kualitas hasil. Seperti teknologi jaringan atau teknologi penyeratan.
Menurut Anwar, Ketua BKN, teknologi kultur jaringan dimaksudkan agar biakan pisang dari induknya bisa memiliki kualitas yang sama dengan sang induk. Sedang untuk alat penyerat mereka membutuhkan alat manual yang bisa digunakan oleh para petani dan diharapkan hasilnya bisa sesuai dengan kehendak pasar.
Sayangnya, hingga saat ini, BPPT hingga kini belum pernah meneliti seberapa besar manfaat penerapan kultur jaringan pada peningkatan kualitas kualitas serat pisang. Termasuk penelitian perbandingan aspek ekonomis antara serat pisang hasil kultur jaringan dan hasil pembiakan generatif.
Dr. Wahono, Kepala Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, seperti yang ditulis Republika menjelaskan, untuk serat pisang memang belum melakukan penelitian, namun untuk kelapa sawit sudah dilakukan.
Wahono juga menambahkan untuk secara teori kultur jaringan bisa mempertahankan kualitas hasil Karena pembiakan jaringan pada hakekatnya memperbanyak induk, sehingga sama persis dengan induknya. Berbeda dengan pembiakan generatif, yang makin lama makin berkurang kualitasnya.
Sementara untuk pembuatan alat penyerat pada pisang abaca, BPPT hingga kini belum pernah mendesainnya. Hal ini diakui oleh Direktur Teknologi Alat dan Mesin Industri BPPT, Triadi Kaswanto. Jadi, kedatangan para petani ini nyaris tak membuahkan hasil. Padahal, menurut Anwar , produk serat pisang abaca ini, pembeli lokal dan eksportir saja, April bulan lalu telah menandatangani kontrak pembelian sebanyak 20.000 ton.


DAFTAR ISI

Berita Iptek. Topik:Biologi

http://library.usu.ac.id/index.php/component/journals/index.php l_review&id=12785&task=view

http://pengawasbenihtanaman.blogspot.com/2008/06/bahan-untuk-bibit-pada
tanaman-tebu.html

http://www.proseanet.org/prohati2/browser.php?docsid=341

http://klepeut.blogspot.com/2009/05/begonia.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar